"Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berfikir" (QS: 2: 219)

"Aturan" Marah Dalam Islam



Perilaku Nabi Muhammad saw. selalu menjadi tuntunan bagi umatnya. Namun dalam soal marah pada istri, tak ada contoh Nabi yang bisa ditiru. Pasalnya, Nabi Muhammad sama sekali tidak pernah marah pada istrinya.
"Tak ada cerita Muhammad marah dalam rumah tangganya. Rasul tidak pernah marah jika menyangkut pribadinya. Beliau marah jika menyangkut agama atau akhlak," ungkap K.H. Dr. Miftah Faridl, Ketua Majelis Ulama Indonsia (MUI) Kota Bandung. Dijelaskan Miftah, kesaksian tentang kesabaran Nabi ini diperoleh dari istrinya, Siti Aisyah.
Namun, tentu saja kita bukan nabi. Nafsu amarah masih kerap melingkupi kita. Konflik-konflik kecil dalam rumah tangga bisa menjadi api amarah yang besar. Untuk itu, Miftah menyarankan agar kita berhati-hati dalam hal ini.
"Marah adalah pertanda kita memiliki perasaan. Namun, kita harus hati-hati karena amarah itu adalah semacam api. Api bisa membakar apa saja yang tersentuh," kata Miftah mengingatkan.
Strategi untuk melawan api ini diberikan Nabi kepada umatnya, yang berkhasiat sama untuk mendinginkan pertengkaran akibat perbedaan pendapat antara suami istri. Berikut tips dari Miftah berdasarkan petunjuk hadis:
1. Bacalah ta`awudz (Audzubillahi minasy syaithani rrajiim). Bacaan ini yang dianjurkan Muhammad ketika dua orang di sisi Nabi saling mencela. Ujar Nabi, "Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan,: Audzubillahi minasy Syaithani rrajiim."


2. Jika ucapan ta`awudz belum juga menghilangkan marah, posisikan tubuh kita menjadi lebih rendah dari sebelumnya. Misalnya, jika amarah datang sementara kita sedang berdiri, maka duduklah. Atau jika sedang duduk, rebahkanlah tubuh.
3. Diam atau tidak berbicara. Cara ini sangat ampuh untuk mengontrol amarah. Berbicara saat sedang marah sangat berbahaya, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Apalagi jika diucapkan oleh seorang suami, bisa merupakan suatu keputusan mutlak. Ucapan "saya talak kamu" merupakan sebuah kalimat yang sah, kendati diucapkan dalam penuh emosi. Sementara bagi istri, ucapan dalam kemarahan memang tidak memberikan konsekuensi sebesar itu, tetapi tetap menimbulkan dosa.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad disebutkan, "Apabila di antara kalian marah, diamlah". Kalimat ini diucapkan Nabi Muhammad hingga tiga kali.
4. Berwudu. Karena marah adalah api, yang bisa melawannya hanya air. "Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan itu diciptakan dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila di antara kalian marah, berwudulah" (H.R. Ahmad).
5. Ingin lebih tenang lagi? Lanjutkan dengan salat Syukrul Wudhu sebanyak dua rakaat. Salat ini bisa dilakukan kapan saja, kecuali pada saat yang diharamkan, yaitu seusai Isya dan Magrib atau seusai Subuh dan Duha ( saat terbenam dan terbit matahari).
6. Selain empat hal tersebut, seorang suami bisa melakukan cooling down dengan mendiamkan istrinya atau pisah kamar sementara. Tentang waktunya tidak ditentukan. Hal ini terutama untuk istri yang melakukan nuzus atau durhaka pada suami. Suami juga boleh memukul jika sang istri tetap durhaka, namun dengan aturan main yang benar, yaitu tidak di wajah dan tidak menyebabkan cacat. Berarti adalah pukulan yang amat perlahan yang merupakan sekadar peringatan.
7. Kunci menghindari perbedaan pendapat menjadi sebuah pertengkaran hebat adalah dengan selalu melestarikan cinta kasih dan saling menolong antara suami istri. Saat kemarahan datang ingatlah jasa pasangan kita dan lupakan kesalahannya. Jangan sesekali mengingat jasa kita, tetapi ingatlah bahwa kita juga pernah berbuat kesalahan. Jika tips ini yang diterapkan dalam rumah tangga, insya Allah perbedaan pendapat hanya menjadi bumbu penyedap rumah tangga.


Penulis : Uci


0 diskusi:

Entri Populer

Diskusi bareng yuk....

 

Fikir Muslim Indonesia | Tentang Kami | Kontak Kami |Terjemahan Al-Qur'an | Donasi | Pasang Iklan
© Copyright 2010 by Fikir Muslim Indonesia